hubungan parasosial
mengapa kita merasa kenal dekat dengan influencer yang tidak tahu kita ada
Pernahkah kita merasa patah hati yang luar biasa saat mendengar sepasang selebritas favorit kita bercerai? Atau mungkin, pernahkah teman-teman mendapati diri sendiri mati-matian membela seorang influencer di kolom komentar, seolah-olah dia adalah sahabat karib kita sejak kecil? Padahal, kalau mau jujur, jangankan nomor WhatsApp kita, eksistensi kita di muka bumi ini saja dia tidak tahu.
Mari kita tertawakan diri kita sendiri sejenak. Rasanya memang sedikit absurd. Kita rela menghabiskan berjam-jam menonton vlog keseharian mereka. Kita tahu makanan kesukaan mereka, nama anjing peliharaan mereka, sampai masalah keluarga mereka. Kita merasa sangat dekat. Namun saat layar ponsel dimatikan, realitas menampar: hubungan ini benar-benar berjalan satu arah.
Dalam psikologi, fenomena ini punya nama resmi: parasocial relationship atau hubungan parasosial. Namun, sebelum kita merasa bersalah atau menganggap diri kita agak "gila" karena punya teman imajiner berwujud manusia nyata, mari kita tarik napas sebentar. Sebenarnya, ada alasan ilmiah yang sangat masuk akal—dan sangat manusiawi—di balik rasa sayang sepihak ini.
Hubungan parasosial bukanlah produk dari era TikTok atau YouTube. Sejarah mencatat, fenomena ini sudah ada jauh sebelum internet lahir.
Pada tahun 1956, dua orang sosiolog bernama Donald Horton dan R. Richard Wohl pertama kali menciptakan istilah ini. Saat itu, mereka mengamati perilaku penonton televisi dan pendengar radio. Banyak orang merasa memiliki ikatan batin yang kuat dengan pembawa berita atau penyiar radio kesayangan mereka. Para penonton ini sering membalas sapaan penyiar televisi, seolah sang penyiar benar-benar sedang menatap mata mereka dari balik layar kaca.
Polanya selalu sama. Satu pihak memberikan waktu, energi emosional, dan perhatian penuh. Sementara pihak yang lain (sang tokoh publik) sama sekali tidak menyadari kehadiran individu tersebut.
Lalu, seiring berjalannya waktu, teknologi semakin canggih. Dulu kita hanya melihat idola kita seminggu sekali di televisi. Kini, influencer membagikan kehidupan mereka 24 jam sehari, 7 hari seminggu lewat Instagram Story atau siaran langsung. Jarak ilusi itu semakin menipis. Kita seakan diajak masuk ke kamar tidur mereka, ikut makan di meja makan mereka, dan mendengar curhatan paling rapuh dari bibir mereka.
Pertanyaannya kemudian, kenapa kita bisa dengan mudah tersedot ke dalam ilusi ini? Apakah ada yang salah dengan cara kerja pikiran kita?
Untuk menjawabnya, kita harus membedah apa yang terjadi di dalam kepala kita. Mari berkenalan dengan kelompok sel pintar di otak kita yang bernama mirror neurons atau neuron cermin.
Sistem saraf inilah yang membuat kita memiliki empati. Ketika kita melihat seseorang menangis di layar ponsel, mirror neurons kita menyala. Otak kita mensimulasikan kesedihan tersebut seolah-olah kita sendirilah yang sedang menangis. Begitu pula saat influencer favorit kita tertawa bahagia karena baru saja membeli rumah baru, otak kita melepaskan dopamin—senyawa kimia pembawa rasa senang—seakan kita ikut merayakan pencapaian sahabat sendiri.
Di sinilah letak misterinya. Secara logika, kita tahu bahwa orang di layar itu bukanlah bagian dari kehidupan nyata kita. Tapi secara emosional, otak kita memproses wajah, suara, dan emosi mereka sebagai interaksi sosial yang sah.
Mengapa otak kita yang sangat kompleks dan canggih ini bisa dengan mudah "tertipu" oleh sebuah layar persegi panjang yang menyala? Apakah sistem operasi otak manusia sedang mengalami glitch atau kerusakan?
Ternyata, otak kita sama sekali tidak rusak. Justru, otak kita sedang menjalankan fungsinya dengan terlalu sempurna. Di sinilah letak rahasia terbesarnya: otak manusia belum mendapatkan update software sejak ratusan ribu tahun yang lalu.
Mari kita kembali ke zaman purba, tempat nenek moyang kita hidup berburu dan meramu. Pada masa itu, kelangsungan hidup manusia sangat bergantung pada kelompok atau suku. Aturan main di alam liar sangat sederhana: jika kita sering melihat wajah seseorang, mendengar suaranya setiap hari, dan mengetahui kebiasaannya, maka orang itu pasti anggota suku kita. Orang itu adalah keluarga. Orang itu aman.
Otak purba kita berevolusi untuk merajut ikatan emosional dengan wajah-wajah yang familiar ini. Ini adalah mekanisme pertahanan hidup dasar.
Nah, ketika kita menatap layar ponsel berjam-jam setiap hari melihat wajah seorang influencer, bagian otak purba kita (amigdala) memproses informasi tersebut dengan logika zaman batu. Otak kita berkata, "Hei, kita melihat wajah orang ini setiap hari. Kita tahu kebiasaannya. Dia sering menatap langsung ke arah kita. Dia pasti anggota suku kita!"
Para pembuat konten dan platform media sosial secara tidak langsung meretas (hack) insting kesukuan kita. Format video talking-head (berbicara menatap kamera), gaya bahasa sehari-hari, dan curhatan vulnerable menciptakan ilusi keintiman yang secara biologis tidak bisa ditolak oleh otak kita. Kita diprogram untuk peduli.
Jadi, teman-teman, merasa dekat dengan seseorang yang tidak kita kenal di internet bukanlah tanda kelemahan mental. Itu adalah bukti bahwa kita memiliki empati, dan bahwa kita berevolusi sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan. Itu adalah hal yang indah.
Namun, di sinilah letak pentingnya berpikir kritis. Mengetahui cara kerja otak memberi kita satu kekuatan baru: kendali.
Kita boleh menikmati konten mereka. Kita boleh merasa terhibur, belajar hal baru, atau bahkan terinspirasi oleh influencer kesayangan kita. Tapi, kita juga harus sadar kapan ilusi ini mulai menggerogoti energi kita. Jangan sampai kita menghabiskan lebih banyak waktu membela kehormatan seorang selebritas di internet, daripada mendengarkan keluh kesah teman atau keluarga yang sedang duduk tepat di sebelah kita.
Hubungan parasosial itu ibarat makanan ringan yang manis. Enak dikonsumsi saat santai, tapi tidak akan pernah bisa menggantikan nutrisi dari makanan utama. Manusia tetap butuh sentuhan, butuh pelukan, dan butuh seseorang yang benar-benar menatap balik mata kita saat kita sedang berbicara.
Mari kita sayangi idola kita secukupnya, dan mari kita cintai orang-orang di dunia nyata kita sedalam-dalamnya.